Minggu, 22 November 2015

KEBUDAYAAN


A.    Pengertian Budaya dan Budaya Lokal
1.      Pengertian Budaya
Dalam antropologi budaya, kata budaya diartikan sama dengan kebudayaan. Kata kebudayaan dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan istilah culture dan dalam bahasa latin colore yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan tanah (bertani). Dengan demikian, culture atau cultuur diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Ditinjau dari sudut bahasa Indonesia, kata kebudayaan berasal dari bahasa sanskerta, yaitu  budhayah  yang merupakan bentuk jamak dari budhi  yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal. Berbagai arti dasar tersebut, para ahli memberi definisi kebudayaan sebagai berikut.
a.      E.B Taylor
Kebudayaan sebagai kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai warga masyarakat.
b.      Roucek and Warren
Kebudayaan sebagai cara hidup yang dikembangkan oleh sebuah masyarakat guna memenuhi keperluan dasarnya untuk dapat bertahan hidup, meneruskan keturunan, dan mengatur pengalaman sosialnya.
c.       C. Kluckhohn
Kebudayaan adalah seluruh cara hidup suatu masyarakat
d.      Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu.
e.       Hassan Shadily
Kebudayaan berarti keseluruhan dari hasil manusia hidup bermasyarakat berisi aksi-aksi terhadap dan oleh sesama manusia sebagai anggota masyarakat yang merupakan kepandaian, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat kebiasaan, dan lain-lain.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan diatas, maka dapat diketahui ciri-ciri kebudayaan sebagai berikut:
a.       Kebudayaan hanya dimiliki masyarakat manusia.
b.      Kebudayaan yang dimiliki manusia, itu diturunkan melalui proses belajar dari setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat.
c.       Kebudayaan merupakan pernyataan perasaan dan pikiran manusia.
Kebudayan dalam kehidupan manusia terbentuk karena dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Fischer menyatakan bahwa pembentukan kebudayaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut :
a.      Lingkungan Geografis
Lingkungan geografis meliputi keadaan tanah (tandus/subur), kedaan iklim (panas/sejuk), dan curah hujan (banyak/sedikit). Jadi lingkungan geografis yang berbeda maka kebudayaannya pun berbeda pula. Faktor-faktor lingkungan geografis ini sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan kebudayaan baik kebudayaan material maupun nonmaterial.
Contoh bentuk kebudayaan material yaitu di daerah yang banyak rumah penduduk terbuat dari kayu. Sebaliknya, daerah yang tidak terlalu banyak terdapat kayu akan kita jumpai bangunan rumah yang terbuat dari tanah liat atau batu. Contoh kebudayaan nonmaterial yaitu pelaksanaan upacara magis memanggil hujan di daerah-daerah yang curah hujannya sedikit.
Lingkungan geografis juga mempengaruhi karakter atau sifat manusia yang tinggal di daerah tersebut. Misalnya, karakter yang ada pada masyarakat pantai. Masyarakat yang tinggal didaerah pantai biasanya mempunyai sifat terbuka, mudah bergaul, spontan, dan dinamis. Karena masyarakat di daerah pantai sering berinteraksi dengan para pendatang dari berbagai negara.
Sebaliknya, masyarakat di daerah pedalaman lebih bersifat tertutup, halus, dan curiga terhadap para pendatang. Hal ini disebabkan letak daerahnya yang jauh sehingga jarang berinteraksi dengan para pendatang. Ia akan menjadi terbuka bila benar-benar sudah mengetahui secara mendalam pendatang-pendatang tersebut.
Dalam perkembangan dikemudian hari, wilayah pedalaman sudah banyak yang bisa dijangkau oleh alat transportasi. Hal ini menyebabkan masyarakat terbuka dan berkembang menjadi lingkungan sosial yang heterogen dan menghasilkan kebudayaan yang lebih beranekaragam. Jadi, sifat dan karakter tersebut jelas akan mempengaruhi proses pembentukan kebudayaan.
b.      Induk Bangsa
Induk bangsa juga mempengaruhi pembentukan kebudayaan. Masalah susunan induk bangsa di Indonesia bagi antropologi memang sangat sulit ditentukan karena setiap induk bangsa mempunyai ciri dan karakteristik yang berbeda-beda. Akan tetapi, yang perlu di ingat bahwa asal induk bangsa yang berbeda akan menghasilkan kebudayaan yang berbeda-beda pula.
Hal itu dapat dilihat dari salah satu induk bangsa yang tertua di Indonesia, yaitu suku bangsa Negrito dan Wedoid. Ciri fisik suku bangsa Negrito adalah hitam dan rambut ikal. Suku bangsa Negrito dapat kita jumpai di Indonesia bagian timur. Selanjutnya, induk bangsa Wedoid memiliki ciri-ciri fisik, antara lain rambut berombak tegang lan lengkung serta alis agak menjorok ke depan.
Induk bangsa Wedoid banyak dijumpai di Semenanjung Barat Daya Sulawesi dan pada orang kubu di Sumatera Selatan. Menurut Von Eicksteds, induk bangsa yang paling banyak adalah induk bangsa melayu dengan ciri-ciri fisik tubuh ramping, wajah bulat, bibir tebal, hidung pesek dan lebar, rambut hitam, serta mata sipit. Induk bangsa Melayu mirip dengan orang-orang tipe Mongoloid. Pada perkembangannya induk bangsa Melayu bercampur dengan induk bangsa lain.
c.       Kontak Antarbangsa dengan berbagai kebudayaan
Terjadinya kontak antarbangsa dengan berbagai kebudayaan dapat dilihat dari terjadinya perpindahan penduduk ke daerah-daerah baru. Perpindahan itu akan menyebabkan percampuran kebudayaan yang kadang-kadang terjadi persentuhan kebudayaan yang berbeda sama sekali.
Dengan demikian, akan berwujud suatu kebudayaan yang baru. Contoh kedatangan bangsa Barat ke Indonesia telah menyebabkan terjadinya percampuran kebudayaan misalnya dalam hal makan yang menggunakan sendok dan garpu.
Sifat-sifat kebudayaan sebagai berikut:
a.    Adaptif
Kebudayaan bersifat adaptif, artinya kebudayaan selalu mampu menyesuaikan diri. Sifat adaptif ini akan melengkapi manusia pendukungnya dengan menyesuaikan diri pada hal-hal seperti kebutuhan fisiologis badan mereka sendiri, lingkungan fisik geografis, dan lingkungan sosial.
b.    Integratif
Kebudayaan bersifat Integratif artinya kebudayaan memadukan semua unsur dan sifat-sifatnya menjadi satu, bukan sekumpulan kebiasaan yang terkumpul secara acak-acakan saja. Karena itulah kebiasaan yang dimiliki dalam suatu kebudayaan tidak dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam kebudayaan lain.
Jika kita mendengar budaya yang tidak kia kenal, reaksi yang lazim adalah mencoba membayangkan apakah budaya itu cocok untuk masyarakat kita. Kebudayaan yang unsurnya bertentangan satu sama lain akan sulit, bahkan mustahil untuk secara bersamaan mempertahankan yang bertentangan. Kebudayaan cenderung terdiri dari unsur-unsur yang dapat disesuaikan satu sama lain. Perubahan pada satu unsur kebudayaan sering menimbulkan efek berantai pada unsur lainnya dan kadang terjadi pada hal-hal yang tidak diduga sebelumnya.
c.     Dinamis
Kebudayaan bersifat dinamis artinya kebudayaan itu selalu berubah dan bergerak mengikuti dinamika kehidupan sosial budaya masyarakat. Dinamika kehidupan sosial budaya terjadi sebagai akibat dari interaksi manusia dengan lingkungan sekitar, penafsiran-penafsiran dan interpretasi yang berubah tentang norma-norma, dan nilai-nilai sosial budaya yang berlaku.
2.      Pengertian Budaya Lokal
Kebudayaan lokal/kebudayaan daerah adalah kebudayaan asli setiap suku bangsa yang diwarisi secara turun-temurun. Kebudayaan lokal merupakan bagian dari kebudayaan bangsa. Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi daya rakyat Indonesia seluruhnya.
Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Pengembangan budaya lokal harus menuju kearah kemajuan adab, budaya, dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat mengembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi  derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
Menurut Van Vollenhoven, masyarakat Indonesia dapat dibagi kedalam 19 lingkungan hukum adat. Pendapat ini diperkuat oleh koentjaraningrat yang menyebutkan ke 19 lingkungan hukum adat ini sebagai culture area. Berikut ini peta lingkungan hukum adat di Indonesia yang dikemukakan oleh Van Vollenhoven.

Menurut koentjaraningrat budaya lokal Indonesia banyak dipengaruhi oleh kebudayan Hindu-Buddha, Islam, dan Eropa. Bangunan candi dan sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan yang terdapat di Indonesia merupakan pengaruh dari kebudayaan Hindu-Buddha. Agama Islam yang menjadi agama mayoritas masyarakat Indonesia merupakan peninggalan dari kebudayaan Islam sekitar abad ke-7. Sementara itu sistem hukum yang dianut oleh negara kita saat ini adalah sistem hukum adopsi dari Belanda.
B.       Unsur-unsur Kebudayaan
1.      Pengertian Kebudayaan Universal
Universal adalah unsur-unsur kebudayaan yang pokok dan dapat dijumpai pada setiap kebudayaan di dunia. Kebudayaan universal adalah segala perilaku kehidupan, upaya, dan kegiatan manusia dalam mengolah dan mengubah alam yang terjadi di setiap lapisan masyarakat. Perilaku tersebut dijumpai pada setiap lapisan masyarakat di dunia walaupun dilaksanakan dengan teknik dan cara yang berbeda, namun tujuan dan wujudnya sepadan.
2.      Unsur-unsur Kebudayaan Universal
Kebudayaan setiap bangsa/masyarakat terdiri dari berbagai unsur besar maupun kecil, yang merupakan bagian dari suatu kebulatan. Unsur-unsur kebudayaan universal atau cultural universal, menunjakkan bahwa unsur-unsur kebudayaan tadi bersifat umum. Jadi unsur-unsur tadi ada dan bisa didapatkan di dalam semua kebudayaan dari semua bangsa dimanapun di dunia.
Beberapa pendapat tentang unsur kebudayaan, sebagai berikut:
a.      Melville J. Herskovics
Ia mengemukakan 4 (empat) unsur pokok kebudayaan, sebagai berikut:
1)   Alat-alat teknologi.
2)   Sistem ekonomi.
3)   Keluarga.
4)   Kekuasaan politik.
Berikut yang dimaksud dengan alat-alat teknologi adalah peralatan/alat-alat yang digunakan manusia untuk mengubah dan mengembangkan suatu pekerjaan teknik, misalnya alat-alt produksi, alat-alat rumah tangga, dan sebagainya. Sistem ekonomi merupakan cara yang digunakan masyarakat untuk mengatur perekonomian masyarakat atau negara.
Keluarga merupakan suatu sistem kehidupan dengan menciptakn kebersamaan dan kesatuan antara dua orang/pria dan wanita yang terikat hukum perkawinan beserta anak-anaknya dan orang tuanya. Kekuasaan politik adalah suatu kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak pemegang kekuasaan di bidang politik.
b.      Bronslaw Malinowski
Ia berpendapat bahwa unsur kebudayaan juga ada 4 (empat), sebagai berikut:
1)   Sistem norma-norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat agar menguasai alam sekelilingnya.
2)   Organisasi ekonomi yaitu wadah kegiatan sekumpulan manusia yang bergerak/berupaya dibidang ekonomi.
3)   Alat-alat atau lembaga-lembaga/petugas untuk pendidikan. Dalam hal ini perlu di ingat bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang utama.
4)   Organisasi kekuatan, yaitu wadah kegiatan sekelompok manusia yang menghimpun suatu kekuatan tertentu, misalnya organisasi politik, kelompok, militer, dan sebagainya.
c.       C. Kluckhohn
C.  Kluckhohn, seorang antropolog Amerika, dalam bukunya Universal Categories of Culture, menguraikan tujuh unsur kebudayan yang menjadi sis poko setiap kebudayaan di dunia. Ketujuh unsur pokok tersebut dianggap dapat ditemukan dalam semua kebudayaan suku bangsa di dunia, sehingga sering kali disebut sebagai cultural universal atau unsur universal.
Ketujuh unsur itu sebagai berikut:
1)        Bahasa (Lisan maupun Tulis)
Bahasa digunakan sebagai alt komunikasi antara anggota masyarakat. Bila individu tidak mengetahui sesuatu ia dapat menanyakan kepada yang lain. Proses saling memberi dan menerima dalam kerangka transmisi kebudayaan antar generasi selalu menggunakan bahasa. Proses transmisi kebudayaan antar generasi selalu menggunakan bahasa. Proses transmisi kebudayaan dilakukan secara bersama-sama dengan menggunakan pranata yang ada misalnya keluarga dan sekolah.
2)        Sistem Pengetahuan
Setiap masyarakat tidak mungkin hidup tanpa pengetahuan. Pengetahuan tentang alam, tumbuhan, binatang, peralatan hidup maupun teknologi modern untuk saat ini digunakan untuk memecahkan permasalahan kehidupan yang dihadapi.
3)        Organisasi Sosial dan Sistem Kekerabatan
Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa hidup secara kolektif. Hidup berkelompok mampu mencukupi kekurangan fisik manusia dan mampu memecahkan berbagai masalah kehidupan. Kehidupan organisasi dan hubungan-hubungan sosial dapat dibedakan sebagai berikut.
a)        Organisasi Simbiotik
Organisasi simbiotik adalah organisasi yang semata-mata terbentuk atas tingkah laku fisik yang bersifat otomatis.
b)       Organisasi Sosial
Organisasi sosial adalah organisasi yang terbentuk atas dasar komunikasi dengan menggunakan sistem lambang.
Organisasi sosial memiliki 2 (dua) aspek sebagai berikut:
a)      Aspek Fungsi
Organisasi sosial memiliki fungsi utama yaitu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Misalnya untuk memelihara dan mendidik anak, lahir organisasi keluarga, sekolah, dan pesantren.
b)     Aspek struktur
Adanya tingkatan organisasi baik secara eksternal. Misalnya disekolah terdapat tingkatan secara internal sehingga ada kepala sekolah, guru, staf administrasi, dan murid. Adapun secara eksternal ada Dinas Pendidikan.
Untuk kelangsungan hidup kekerabatan dan organisasi sosial, diperlukan ketertiban sosial (tata cara/mekanisme untuk mengatur masyarakat sesuai dengan kebudayaan yang dimiliki).
4)        Sistem Peralatan dan Teknologi
Teknologi adalah sejumlah kemampuan teknik yang dimiliki oleh para anggota masyarakat untuk membantu memecahkan masalah kehidupan (kebutuhan hidup). Dalam kenyataannya masyarakat mempunyai teknologi yang berbeda-beda. Namun dalam penerapannya memiliki kemiripan. Aspek-aspek teknologi yang mirip dan digunakan secara universal diantaranya alat-alat kerja, wadah, makanan, pakaian, perumahan, dan alat transportasi.
5)        Sistem Mata Pencaharian
Sistem mata pencaharian hidup yang paling tua adalah mengumpulkan makanan yang ada di lingkungannya. Masa tersebut merupakan masa makmur pertama, karena dengan tidak berbuat apa-apa kebutuhan biloginya terpenuhi. Di samping mengumpulkan makanan juga melakukan perburuan hewan-hewan untuk memenuhi kebutuhan protein.
Bila alam sudah tidak mampu mendukung kehidupan, mereka mencari tempat lain. Bila berpapasan kelompok lain tidak jarang terjadi peperangan antar suku. Setelah berkali-kali pindah dan alam sudah tidak mendukung, barulah ada perencanaan hidup untuk menetap. Mereka mulai mengolah tanah melalui pola pertanian awal dan memelihara berbagai jenis binatang. Perkembangan masyarakat lebih lanjut mereka mulai membuat barang kerajinan tangan atau benda lainnya.
6)        Sistem Religi
Sistem religi atau kepercayaan berkaitan dengan keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dalam kehidupan yang mengatur segala sesuatunya. Dalam suku-suku bangsa Indonesia saat ini, sistem kepercayaan sangat dipengaruhi oleh kehadiran agam-agama besar, seperti Islam, Kathoik, Protestan, Hindu, dan Buddha. Di beberapa suku bangsa kepercayaan asli (animisme dan dinamisme) masih hidup dan berkembang.
7)        Kesenian
Kesenian berhubungan dengan nilai kehidupan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan sekitarnya. Sebagai mkhluk yang mempunyai cita rasa tinggi manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari perwujudan kesenian yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.
Kesenian di Indonesia sangat beragam. Setiap suku bangsa memiliki kesenian yang berbeda baik tari-tarian, lagu daerah, seni rupa, maupun alat-alat musik.
d.      Ralph Linton
Ia memecah culture universal ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil, sebagai berikut:
1)        Culture Activity/ kegiatan-kegiatan kebudayaan.
Contoh culture activity yaitu pencaharian hidup dan ekonomi yang mencakup kegiatan kebudayaan. Seperti pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dan lain-lain.
2)        Trait-complexes
Ralph Linton memecah kegiatan kebudayaan menjadi unsur-unsur yang lebih kecil yang disebut traits complexes.Contoh kegiatan pertanian meliputi unsur-unsur irigasi, sistem pengolahan tanah dengan bajak, sistem hak milik tanh, dan sebagainya.
3)        Traits
Unsur-unsur Traits complexes dipecah menjadi yang lebih kecil lagi, misalnya sistem pengolahan tanah dilakukan dengan/oleh manusia, hewan, mesin, dan sebagainya.
4)        Items
Traits dipecah menjadi unsur yang lebih kecil lagi, misalnya bajak terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil lagi.
Keempat unsur tersebut membentuk urutan hierarkis. Maksudnya activity memiliki unsur Traits complexes, traits complexes memilki unsur trais, dan traits memiliki unsur Items.
Berdasarkan pendapat Ralph Linton, unsur-unsur kebudayaan di dalam kehidupan masyarakat dapat dikelompokkan menjadi 5 (lima), sebagai berikut:
1)      Cultural Universal
Cultural universal adalah unsur-unsur kebudayaan tersebar dalam suatu kerangka kebudayaan yang dapat dijumpai di manapun di muka bumi.
2)      Cultural activity
Cultural activity adalah kegiatan kebudayaan setempat. Kegiatan ini hanya terdapat dalam suatu kelompok masyarakat di suatu tempat yang tidak selalu dapat dijumpai pada masyarakat lain dalam daerah atau tempat dan memiliki cultural activities yang berbeda-beda.
3)      Traits Complexes
Traits complexes adalah suatu unsur kebudayaan yang lebih kecil atau unik daripada kegiatan kebudayaan setempat. Traits complexes dimaksudkan sebagai alat-alat yang melengkapi kegiatan kebudayaan.
4)      Traits
Traits adalah unsur-unsur pelengkap yang lebih kecil daripada traits complexes yang masih bisa diuaraikan satu persatu.
5)      Items
Items adalah unsur-unsur terkecil yang tidak dapat diuraikan dan dijelaskan lagi.
                   Contoh:
-      Cultural universal        : sistem mata pencaharian hidup.
-      Cultural activity           : pertanian, perladangan, perdagangan, dan lain-lain.
-      Traits complexes          : sistem mengolah tanah, sistem irigasi, dan sistem pemilikan                                           tanah.
-    Traits                            : unsur bajak dalam pertanian, orang yang menggerakkan,dan                                           binatang yang menarik bajak.
-    Items                             : bajak terdiri dari tiang penarik, pisau bajak, kemudi, dan                                                 sebagainya.
Seluruh unsur kebudayaan universal ini dapat dianggap unsur-unsur “besar” dalam kebudayaan suatu suku bangsa. Hal ini disebabkan pengelompokkan unsur-unsur tersebut menunjukkan kerangka utama dari sebuah kebudayaan.
Kebudayaan terdiri dari 3 (tiga) wujud, sebagai berikut:
a.      Gagasan/Ide, Nilai-nilai, dan Norma
Ide sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala-kepala, atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat tempat kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Kalau warga masyarakat tadi menyatakan gagasan mereka tadi dalam tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideas sering berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat bersangkutan. Sekarang wujud kebudayaan ideas ini juga banyak tersimpan dalam disk, arsip, koleksi micro film dan microfish, komputer, pita rekam,dsb.
Gagasan-gagasan itu tidak terlepas antara yang satu dengan yang lain, melainkan saling berkaitan menjadi satu sistem. Para ahli antropologi dan sosiologi menyebutnya sebagai sistem budaya (culture system).

b.      Tindakan Berpola dan Berbagai Aktivitas
Aktivities (aktivitas manusia) sistem sosial atau social system, mengenai tindakan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain, selalu mengikuti pola-poa tertentu berdasarkan adat dan tata kelakuan. Sebagai rangkaian aktivitas manusia-manusia dalam suatu masyarakat, sistem sosial itu bersifat konkret, terjadi disekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan.
c.       Benda atau Karya Manusia
Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik, berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto. Ada benda-benda yang sangat besar seperti pabrik baja, ada benda-benda yang kompleks dan canggih seperti komputer, dan ada benda-benda hasil seni arsitek seperti candi-candi dan yang yang indah, bangunan-bangunan monumental.
Benda kebudayaan atu artefak adalah perwujudan konkret sistem gagasan yang dapat kita lihat sehari-hari. Benda tersebut telah diproduksi baik pada masyarakat yang sederhana maupun masyarakat yang kompleks. Benda-benda seperti kapak dari batu, tombak, perkakas rumah tangga dari bahan tanah liat, bahkan sampai lukisan di gua-gua adalah benda-benda yang telah dibuat oleh masayarakat prasejarah.
Bangsa Indoneesia juga telah memproduksi benda-benda yang bersifat duniawi seperti kendaraan, peralatan rumah tangga, pemakaian energi listrik dan gas bumi, serta komputer. Bervariasinya benda budaya disebabkan oleh faktor perkembangan teknologi dan penguasaannya oleh bangsa Indonesia.
Masing-masing unsur kebudayaan universal di atas pun memiliki 3 (tiga) wujud kebudayaan tersebut. Misalnya dalam unsur sistem religi, kita akan menemukan bahwa:
a.       Gagasan/ide, nilai-nilai, dan norma religi itu dapat berbentuk paham ketuhanan, kepercayaan terhadap neraka, surga, dan malaikat.
b.      Tindakan berpola dan berbagai aktivitas religi itu dapat berbentuk kegiatan ritual (upacara), devosi (penghormatan), dan
c.       Benda atau karya hasil manusia dalam unsur religi antara lain berbentuk patung, tasbih, rosario, kalgrafi, salib, dan kitab suci.
Demikian juga, dalam unsur-unsur kebudayaan universal yang lain, kita akan menemukan tiga wujud kebudayaan tersebut.
C.      Macam-macam Budaya Lokal di Indonesia
Macam-macam budaya lokal di Indonesia sebagai berikut:
1.      Kebudayaan Masyarakat Batak
Budaya yang termasuk ke dalam kebudayaan masyarakat Batak adalah mereka yang berdiam di sekitar wilayah pegunungan sumatera utara, mulai dari perbatasan Daerah Istimewa Aceh di utara sampai ke perbatasan dengan Riau dan Sumatera Barat di sebelah selatan. Selain itu, orang batak juga mendiami tanah datar yang berada di antara daerah pegunungan dengan pantai Timur Sumatera Utara dan pantai Barat Sumatera Utara. Dengan demikian, orang Batak ini mendiamai dataran tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, Simalungun, Diari, Toba, Humbang, Silindung, Angkola, Mandailing, dan kabupaten Tapanuli Tengah.
Kelompok kerabatan yang besar disebut Merga (Karo) atau Marga (Toba). Pada orang Karo nama Merga berupa nama kolektif tanpa menghiraukan adanya nenek moyang. Sedangkan pada orang Toba nama Marga menunjukkan nama dari nenek moyang asal. Kalau seseorang Karo bernama Perangin-angin Bangun, hal itu tidak berarti bahwa ia keturunan dari seorang bernama Bangun anak dari Perangin-angin. Namun jika seorang Toba bernama Siregar Tilo maka hal itu berarti bahwa ia keturunan dari seorang bernama Silo anaknya Siregar.
Orang Batak hidup dalam satu-kesatuan yang disebut Huta (Toba) atau Kesain (Karo) yang dikelilingi oleh parit. Tiap-tiap desa memiliki balai desa untuk tempat rapat. Orang Batak hidup dalam rumah disebut Ruma (Toba), atau Jabu (Karo) yang dihuni oleh beberapa keluarga batih yang satu sama lainnya terikat oleh hubungan kekerabatan secara patrilineal. Orang Batak mayoritas bermata pencaharian bercocok tanam padi di sawah atau di ladang.
Seiring dengan perkembangan zaman dan modernitas, orang Batak banyak terpengaruh kebudayaan Kristen. Mereka memiliki organisasi keagamaan seperti Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Selain itu ada juga yang dipengaruhi kebudayaan Islam.
2.      Kebudayaan Masyarakat Minangkabau
Daerah Asal kebudayaan Minangkabau seluas provinsi Sumatera Barat. Tersebar juga di beberapa tempat di Sumatera dan juga di Malaya. Garis keturunan masyarakat Minangkabau diperhitungkan menurut garis matrilineal. Kesatuan keluarga yang terkecil adalah paruik. Kepentingan suatu keluarga diutus oleh seorang laki-laki dewasa yang bertindak sebagai ninik mamak. Istilah mamak berarti saudara laki-laki ibu.
Secara sederhana masyarakat Minangkabau terbagi dalam 3 (tiga) lapisan besar, yaitu bangsawan, orang biasa, dan orang yang paling rendah. Tolak ukurnya adalah perbedaan kedatangan suatu keluarga ke dalam suatu tempat tertentu. Keluarga yang mula-mula datang dianggap sebagai keluarga bangsawan. Keluarga-keluarga yang datang kemudian menjadi orang biasa. Sedangkan keluarga yang menumpang pada yang lebih dulu datang tersebut orang yang paling rendah.
3.      Kebudayaan Masyarakat Aceh
Daerah Aceh tidak hanya terdiri dari daratan yang tergabung kedalam bagian utara pulau Sumatera, tapi juga meliputi wilayah Simeulu, We, Breuh dan pulau lainnya yang jumlahnya tidak sedikit. Komunikasi yang buruk ke pedalaman menghilangkan kegairahan penduduk untuk menetap di suatu tempat. Ini pula yang mengakibatkan tidak meratanya kepadatan penduduk di daerah-daerah kabupaten. Desa bagi orang Aceh disebut gampong. Setiap gampong terdiri dari 50-100 rumah. Setiap penduduk desa diwajibkan beribadah bersama-sama, membangun tempat ibadah seperti masjid dan madrasah secara bergotong-royong.
Masyarakat aceh sebagian besar memeluk agama Islam. Agama Islam memegang peranan utama dalam kehidupan masyarakat Aceh. Segala tingkah laku masyarakat harus sesuai dengan Al-Qur’an dan hadist. Hal-hal seperti perkawinan, harta waris, dan kematian diatur menurut syariat Islam.
4.      Kebudayaan Masyarakat Jawa
Stratifikasi sosial dalam masyarakat Jawa mendapat pengaruh dari Keraton. Di mana kaum bangsawan dan keturunannya (bendera) serta pegawai pemerintahan dan kaum terpelajar (priyayi) menempati posisi pada lapisan sosial atas, sementara petani di desa dan masyarakat kebanyakan yang digolongkan dalam wong cilik berada pada lapisan dibawahnya kepala desa (petinggi) dengan dibantu oleh bawahannya sebagai berikut.
a.       Carik, benrtindak sebagai sekretaris desa.
b.      Kamituwa, bertindak sebagai kepala dukuh/kampung.
c.       Kebayan, berperan sebagai humas internal desa yang menyampaikan hal terkait kebijakan kepala desa masyarakatnya.
d.      Kaum/modin, mengurusi soal perkawinan, masalah keagamaan, dan kematian.
Bertani merupakan mata pencaharian utama masyarakat jawa dengan menggarap tegalan (kebun kering), serta sawah baik tadah hujan maupun yang menggunakan pengairan melalui jaringan irigasi yang ada. Biasanya penanaman padi sebanyak dua kali dalam setahun, setelah itu diselingi dengan menanam palawija semisal kacang tanah, kedelai atau jagung dengan maksud memberikan masa istirahat pada area persawahan.
Sebagai masyarakat agraris, masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang religius dengan mempercayai adanya kekuatan yang mengatur kehidupan manusia. Berbagai agama dan kepercayaan tumbuh subr dalam masyarakat Jawa. Mereka selalu mengembangkan sikap tepa selira, sehingga agama dan kepercayaan berkembang tanpa memunculkan gejolak di masyarakat.
5.      Kebudayaan Masyarakat Bali
Ada 2 (dua) bentuk masyarakat di Bali, yaitu masyarakat Bali Aga dan Bali Majapahit. Masyarakat Bali Aga adalah masyarakat yang kurang mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu dari Majapahit. Mereka mempunyai struktur tersendiri. Orang Bali Aga pada umumnya mendiami desa-desa didaerah pegunungan seperti Sembiran, Cempaga Sidatapa, Pedawa, Tigauasa di Kabupaten Buleleng, dan desa Tenganan Pegrigsingan di Kabupaten Karangasem. Sedangkan orang Bali Majapahit pada umumnya tinggal di daerah-daerah dataran dan menjadi penduduk mayoritas di Bali.
Mata pencaharian pokok orang bali adalah bercocok tanam. Hanya 30% penduduk yang hidup dari peternakan, berdagang, menjadi buruh, pegawai atau yang lainnya. Di Bali berkembang suatu sistem untuk mengatur pengairan dan penanaman di sawah-sawah. Apabila air cukup, maka ditanamlah padi tanpa diselingi oleh palawija. Sebaliknya, apabila keadaan air kurang mencukupi maka diadakan giliran penanaman padi dan palawija.
Sistem kekerabatan yang mengikat masyarakat Bali adalah patrilineal. Disamping itu ada pula bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan atas kesatuan wilayah yang disebut banjar. Tiap-tiap keluarga batih maupun keluarga luas harus memelihara hubungan dengan kelomppok kerabatnya yang lebih luas, yaitu klen (tunggal dadia). Menurut pandangan adat lama, perkawinan sebisa mungkin dilakukan antara warga satu klen atau setidak-tidaknya antara orang-orang yang dianggap sederajat dalam kasta.
Sistem pelapisan sosial masyarakat Bali dipengaruhi oleh sistem kasta dalam kitab suci agama Hindu. Di Bali, wangsa-wangsa dalam sistem pelapisan mempunyai sebutan sama seperti dalam Hindu, yakni Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra, ketiga lapisan pertama disebut Triwangsa, sedangkan lapisan keempat disebut Jaba. Zaman modern telah banyak membawa perubahan dalam sistem pelapisan tersebut. Misalnya, penghapusan UU yang menghukum gadis yang lebih tinggi kastanya yang menikah dengan laki-laki yang kastanya lebih rendah. Pendeta pun kini tidak harus berasal dari kasta Brahmana. Mayoritas orang Bali menganut agama Hindu. Ada pula golongan kecil orang Bali yang menganut agama Islam, Kristen, dan Katholik. Penganut agama Islam tinggal di daerah pinggir pantai, karangasem, klungkung, dan denpasar. Sedangkan penganut agama Kristen dan Katholik berdiam di Singaraja, Jembrana, dan Denpasar.
6.      Kebudayaan Masyarakat Kalimantan (Tengah)
Penduduk asli kalimantan adalah suku Dayak. Di Kalimantan terdapat banyak suku Dayak yang tersebar di wilayah Kalimantan Tengah.
Secara umu terdapat 3 (tiga) suku Dayak, sebagai berikut:
a.       Ngaju, tinggal disepanjang sungai besar seperti Kapuas, Kahayan, Rungan-Manuhin, Barito, dan Katingan.
b.      Ot-Danum, memiliki daerah persebaran yang hampir sama dengan Ngaju.
c.       Ma’anyan, sebagian besar tinggal di tepi timur sungai Barito.
Bahasa yang digunakan menggunakan keluarga bahasa Barito. Orang Dayak Kalimantan Tengah mendiami desa-desa besar maupun kecil mengingat sarana komunikasi serta transportasi melalui air. Mata pencaharian masyarakat Dayak Kalimantan sebagian besar berupa perladangan berpindah yang dikerjakan secara bersama-sama dalam satu kelompok. Sistem kemasyarakatan pada masyarakat desa secara formal dipimpin oleh pembekal, sebagai pemimpin administrasi dan penghulu, sebagai kepala adat dalam desa, memutuskan perkara-perkara hukum adat serta menjadi wakil desanya dalam upacara-upacara adat yang diadakan di desa tetangga.
7.      Kebudayaan Masyarakat Bugis-Makassar
Kebudayaan Masyarakat Bugis-Makassar mendiami bagian terbesar wilayah selatan Pulau Sulawesi. Dalam berkomunikasi, orang Bugis menggunakan bahasa Ugi dan orang Makassar menggunakan bahasa Mangasara.
Sistem stratifikasi sosial lama terdapat 3 (tiga) lapisan pokok masyarakat, sebagai berikut.
a.       Anakarung (Ana’karaeng, Makassar) merupakan lapisan kaum kerabat raja-raja, biasanya menggunakan gelar pada namanya seperti Karaenta, Puatta, Andi, dan Daeng.
b.      To-Maradeka (tu-maradeka, Makassar) adalah lapisan orang merdeka merupakan sebagian besar masyarakat.
c.       Ata, orang yang ditangkap dalam peperangan atau orang yang tidak dapat membayar utang, atau juga orang yang melanggar adat.
Seiring dengan perkembangan zaman, adany perbedaan dalam lapisan masyarakat tersebut mulai berkurang secara cepat. Sistem kekerabatan dalam perkawinan, adat Bugis-Makassar menetapkan sebuah perkawinan ideal, sebagai berikut.
a.       Assialang Marola, perkawinan antara saudara sepupu sederajat kesatu baik dari pihak ayah maupun ibu.
b.      Assialanna Memang, perkawinan antara saudara sepupu sederajat kedua baik dari pihak ayah maupun ibu.
c.       Ripaddepee’ mabelae, perkawinan antara saudara sepupu sederajat ketiga dari kedua pihak.
Sebelum masuknya Islam, orang Bugis-Makassar telah mengenal suatu kepercayaan pada satu Dewa tunggal yang disebut dengan nama, yaitu Patoto’e (dia yang menentukan nasib), Dewata Seuwa-e (dewa yang tunggal), dan Turie a’rana (kehendak yang tinggi). Islam masuk ke Sulawesi Selatan sekitar abad ke-17, dimana ajaaran Islam dengan mudah dapat dipercepat prosesnya melalui kontak yang terus-menerus dengan pedagang melayu.
8.      Kebudayaan Masyarakat Dani
Masyarakat suku bangsa Dani tinggal di lembah Balim, Papua. Mereka adalah keturunan Moni, penduduk dataran tinggi Pinai. Dani artinya orang asing, orang Dani berbahasa Dani. Mereka diperkirakan hidup sebagai peramu sagu pada rawa-rawa tepi pantai, kemudian pindah ketanah kering di pedalaman.
Masyarakat Dani mengenal kepercayaan pada roh nenek moyang. Upacara keagamaan dilakukan dengan melaksanakan pesta babi. Sistem kekerabatannya adalah patrilineal, yaitu memperhitungkan garis keturunan dari ayah. Kelompok kekerabatan yang terkecil disebut keluarga luas. Keluarga luas terdiri dari 2 atau 3 keluarga inti. Kompleks perumahan ditutup pagar (uma).
D.      Dampak Masuknya Budaya Asing
Setelah masuknya budaya asing, ada beberapa hal yang menjadi kelemahan mentalitas bangsa Indonesia. Berikut ini merupakan mentalitas kebudayaan Indonesia dan mentalitas budaya barat.
1.      Mentalitas Kebudayaan Indonesia
Beberapa akibat revolusi kemerdekaan pada bangsa Indonesia, sebagai berikut.
a.       Adanya kerusakan fisik dan mental dari masyarakat bangsa kita.
b.      Terputusnya kontinuitas kehidupan masyarakat, akibatnya timbul kehidupan baru yang penuh keragu-raguan.
c.       Terabaikannya sarana prasarana ekonomi dan kehidupan ekonomi sehingga menjadi kacau.
d.      Pergantian hukum kolonial ke hukum nasional tidak bisa berjalan baik sehingga peraturan menjadi kabur.
e.       Dalam sektor sosial budaya terjadi krisis otoritas, kemacetan administrasi, dan korupsi menyeluruh.
Berikut ini kelemahan-kelemahan mentalitas kebudayaan Indonesia, sebagai berikut.
a.      Meremehkan Mutu
Selama dijajah kondisi penduduk indonesia miskin. Bisa makan atau memiliki sesuatu dengan kualitas rendah pun sudah senang. Suatu pekerjaan bisa selesai, kita sudah senang tanpa melihat kualitas. Mungkin dengan meningkatnya kemakmuran, kepekaan kita terhadap mutu akan tumbuh kembali.
b.      Suka Menerabas ( Mengambil Jalan Pintas)
Banyak diantara kita memiliki mental jalan pintas, yaitu bernafsu untuk mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa berusaha dari permulaan selangkah demi selangkah. Yang menjadi pengusaha, pegawai/pejabat ingin kaya secepat-cepatnya. Untuk mencapai keinginan itu, ditempuh cara-cara yang tidak semestinya, yaitu korupsi dan kolusi.
c.       Kurang Percaya Pada Diri Sendiri
Banyak orang Indonesia yang merasakan secara kualitas ada dibawah bangsa Eropa atau Amerika. Sebaliknya banyak orang Indonesia yang secara berlebih-lebihan menjelek-jelekkan orang kulit putih sebagai kompensasi untuk menutupi kelemahan dirinya.
d.      Kurang Bertanggung Jawab
Banyak di antara kita yang kurang memiliki rasa bertanggung jawab. Bisa jadi hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan atau keterbatasan. Rendahnya tanggung jawab juga bisa dilihat dari adanya pegawai atau pekerja yang bekerja dengan baik apabila ditunggui atasannya.
e.       Tidak Disiplin Murni
Hal ini terjadi karena banyaknya pegawai/priyayi yang berorientasi vertikal (pada pemimpin). Bila pengawasan kendor maka hilang hasrat murni dalam jiwanya untuk mentaati peraturan. Hal ini mungkin disebabkan pula oleh pola pengasuhan anak di Indonesia yang masih tradisional. Anak dibiarkan berkeliaran mencari irama hidupnya sendiri tanpa disiplin dan peraturan yang ketat.
2.      Mentalitas Budaya Barat (Budaya Asing)
a.      Terbuka
Memiliki sikap untuk menerima hal-hal baru sehingga terjadi perubahan ke arah kemajuan.
b.      Demokratis
Bebas menyatakan pendapat/opini dan menghargai pendapat orang lain.
c.       Disiplin
Memiliki ketaatan yang tinggi terhadap peraturan.
d.      Menghargai Waktu
Tidak ada waktu yang disia-siakan dan semua aktivitas berorientasi ke masa depan.
e.       Memiliki Perencanaan dan Pengorganisasian
Setiap pekerjaan direncanakan dengan baik dan terorganisir.
f.       Percaya Diri
Mereka yakin bahwa setiap manusia mempunyai kemampuan untuk memecahkan persoalan dirinya. Keberadaan orang lain hanya bersifat mambantu, bukan menentukan terselesainya persoalan.
            Di dalam era globalisasi dan modernisasi sekarang ini, kita tidak dapat menolak masuknya budaya asing ke Indonesia. Budaya asing tersebut akan berdampak terhadap masyarakat Indonesia.
Dampak-dampak masuknya pengaruh budaya asing, sebagai berikut.
1.      Dampak Positif
Dampak positif budaya barat terhadap budaya nasional antara lain:
a.       Meningkatkan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi,
b.      Menghargai pentingnya nilai-nilai demokrasi,
c.       Meningkatkan dan menyadarkan perlunya sikap disiplin,
d.      Meningkatkan etos kerja,
e.       Terbuka terhadap pembaharuan,
f.       Meningkatkan kesadaran akan pentingnya kualitas dan tanggung jawab, dan
g.      Adanya kerja sama ekonomi dan investasi yang mempercepat pembangunan ekonomi.
2.      Dampak Negatif
Dampak negatif budaya barat terhadap budaya nasional adalah adanya nilai-nilai budaya barat yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, seperti berikut.
a.       Masuknya pornografi,
b.      Adanya peredaran obat-obatan terlarang dan minuman keras,
c.       Sikap individualis yang berlebihan,
d.      Lahirnya paham hedonisme (hidup hanya untuk bersenang-senang),
e.       Lahirnya sikap sekuler dikalangan orang-orang tertentu,
f.       Memudarnya nilai-nilai bergotong-royong.
E.       Hubungan Antarbudaya
1.      Akulturasi
Beberapa pendapat para ahli mengenai akulturasi, sebagai berikut.
a.      A. Kroeber
Akulturasi sebagai salah satu bentuk kebudayaan yang disebabkan pengaruh dari luar. Pengaruh itu bisa berjalan timbal-balik atau hanya satu pihak saja. Akulturasi terjadi apabila keduanya memiliki hubungan yang sangat erat, serta menunjukkan adanya saling membutuhkan untuk kemudian dijadikan bagian dari kebudayaan tersebut.
b.      J.L. Gillin dan J.P. Gillin
Akulturasi adalah suatu proses dimana masyarakat yang berbeda-beda dalam kebudayaannya itu mengalami perubahan melalui adanya kontak langsung yang lama, akan tetapi tidak sampai pada percampuran yang menyeluruh dari kedua kebudayaan tersebut.
c.       Koentjaraningrat
Koentjaraningrat mengemukakan bahwa akulturasi timbul bila suatu kelompok manusia dengan kebudayaannya dihadapkan dengan unsur kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa sehingga unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah dalam kebudayaan sendiri tanpa menghilangkan kebudayaan sendiri.
Proses akulturasi tidak terjadi dalam sekejap, tetapi berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Perlu diingat bahwa dalam proses akulturasi ini terjadi seleksi, pemilihan, unsur yang baik untuk diserap dan yang buruk ditolak. Para ahli antropologi menggunakan istilah-istilh berikut untuk menganalisis unsur-unsur yang terjadi dalam suatu proses akulturasi.
a.      Substitusi
Substitusi, artinya kebudayaan yang lama digantikan dengan unsur baru yang lebih memberikan manfaat untuk keperluan hidup masyarakat. Misalnya, sistem komunikasi tradisional melalui kentongan atau bedug diganti dengan telepon, radio, atau pengeras suara.
b.      Sinkretisme
Sinkretisme, artinya unsur-unsur kebudayaan lama yang masih berfungsi bercampur dengan unsur-unsur kebudayaan baru maka akan membentuk sistem kebudayaan baru. Hal ini sering terjadi dalam sistem keagamaan. Misalnya, orang jawa masih memperlihatkan perpaduan antara Hindu dan Islam. Seperti bagi petani, ketika akan menanam padi, petani melakukan upacara ritual untuk menghormati Dewi Sri.
c.       Adisi
Adisi, artinya unsur-unsur kebudayaan lama yang masih berfungsi ditambah dengan unsur-unsur baru sehingga memberikan nilai lebih. Misalnya, disamping menggunakan kendaraan bermotor, masyarakat Lombok masih menggunakan sarana transportasi tradisional, seperti cidomo (cikar, dokar, dan motor), yaitu cikar yang ditarik oleh kuda, tetapi menggunakan roda mobil.
d.      Dekulturasi
Dekulturasi, artinya unsur kebudayaan lama hilang diganti oleh unsur yang baru. Misalnya, mesin penggiling padi menggantikan penggunaan lesung dan alu.
e.       Originisasi
Oroginisasi, artinya masuknya unsur kebudayaan yang sama sekali baru dan sebelumya tidak dikenal sehingga menimbulkan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, proyek listrik masuk desa menimbulkan perubahan besar di daerah pedesaan.
Dengan adanya listrik masuk desa ternyata mengubah perilaku masyarakat desa karena adanya listrik, masuk pula media elektronik yang banyak memberikan berbagai informasi kepada masyarakat. Lambat laun masuknya berbagai informasi tersebut mengubah pula pola pemikiran masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, dan perekonomian dalam bidang pendidikan masyarakat semakin menyadari bahwa pendidikan akan memberantas kebodohan.
Dalam bidang kesehatan, masyarakat semakin sadar bahwa lingkungan yang bersih berpengaruh terhadap kesehatan, lingkungan kotor akan menyebabkan datangnya berbagai penyakit. Dalam bidang perekonomian, kejujuran dalam mengelola keuangan negara akan berpengaruh terhadap tegaknya perekonomian antarbangsa.
f.       Rejeksi atau Penolakan
Proses rejeksi atau penolakan ini muncul akibat dari proses perubahan sosial budaya yang sangat cepat sehingga menimbulkan dampak negatif bagi sebagian anggota masyarakat. Penolakan ini disebabkan sebagian anggota masyarakat yang lebih percaya kepada dukun daripada dokter.
g.      Penetrasi
Penetrasi, artinya adanya unsur kebudayaan asing yang mempengaruhi kebudayaan setempat yang terjadi begitu intensif sehingga menyebabkan terjadi perubahan besar pada kebudayaan setempat.
Penetrasi kebudayaan ini ada 2 (dua) macam, yaitu penetration pasifique dan penetration violent.
1)      Penetration pasifique adalah penetrasi kebudayaan yang berlangsung secara damai. Hal ini dapat dilihat dari datangnya para pedagang Indiayang membawa agama Hindu dan para pedagang Arab dan Gujarat yang menyebarkan agama Islam.
2)      Penetration violent adalah penetrasi kebudayaan yang berlangsung dengan kekerasan dan bersifat memaksa. Penetrasi ini dilakukan melalui penaklukan atau penjajahan, seperti penjajahan orang-orang Eropa ke Asia dan Afrika, termasuk ke Indonesia.
2.      Difusi
Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu tempat ke tempat lain. Menurut W.A. Haviland, difusi diartikan sebagai penyebaran adat atau kebiasaan dari kebudayaan yang satu kepada kebudayaan lainnya. Proses difusi dapat berlangsung melalui beberapa cara, sebagai berikut.
a.      Migrasi atau Perpindahan Penduduk
Pada saat perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain unsur-unsur kebudayaan yang bersangkutan ikut pindah pada kebudayaan setempat. Misalnya, menyebarnya keterampilan bertani dengan sistem bersawah ke daerah lain. Ketika sebagian penduduk dari pulau Jawa ditransmigasikan ke pulau Sumatera, Kalimantan, dan daerah-daerah lainnya.
b.      Penyebaran Unsur-unsur Kebudayaan Tertentu yang Terlepas dari Masyarakat Pendukungnya
Unsur-unsur kebudayaan ini dibawa orang lain dari tempat yang satu ke tempat yang lain secara beruntun, bahkan sampai ketempat yang jauh. Misalnya, menyebarnya berbagai jenis makanan pokok yang berasal dari suku bangsa Indian dari Amerika Tengah seperti kentang, jagung, dan ketela ke seluruh dunia.
3.      Asimilasi
Asimliasi adalah proses perubahan kebudayaan secara menyeluruh akibat membaurnya dua kebudayaan atau lebih yang menyebabkan ciri-ciri kebudayaan asli tidak tampak lagi. Apalagi masyarakat pendatang berasimilasi dengan kebudayaan masyarakat setempat, merek menyatu dan tidak lagi membedakan kebudayaan asing. Jadi, kebudayaan masing-masing lebur dalam kesatuan kebudayaan. Misalnya, perkawinan yang terjadi antara orang Indonesia dengan orang Arab atau orang Cina yang disebut amalgamasi.
Bagi Indonesia, sebagai negara kesatuan, proses asimilasi sangat penting karena beberapa alasan berikut
a.       Banyaknya unsur kebudayaan daerah dari suku-suku bangsa yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.
b.      Adanya unsur-unsur kebudayaan golongan minoritas, seperti keturunan Cina dan Arab, yang sebenarnya secara turun-temurun telah berada di Indonesia.
Berikut faktor pendorong dan penghambat asimilasi.
a.      Faktor Pendorong Asimilasi
Ada banyak faktor yang mendorong terjadinya asimilasi, sebagai berikut.
1)      Adanya kebutuhan untuk saling melengkapi perbedaan setiap pendukung kebudayaan,
2)      Adanya rasa toleransi di antara para pendukung kebudayaan yang berasimilasi,
3)      Adanya sikap saling menghargai orang asing dan kebudayaan yang dimilikinya,
4)      Adanya sikap terbuka untuk menerima kehadiran orang asing dan kebudayaannya,
5)      Adanya perkawinan campuran antara pendukung kebudayaan setempat dengan pendukung kebudayaan asing.
b.      Faktor Penghambat Asimilasi
Selain faktor pendorong, ada pula faktor penghambat asimilasi sebagai berikut.
1)      Kurangnya pengetahuan terhadap kebudayaan yang dihadapi,
2)      Adanya rasa takut terhadap kekuatan dari kebudayaan yang dihadapi,
3)      Adanya perasaan superioritas pada individu terhadap kebudayaan lain,
4)      Adanya sikap curiga dan prasangka buruk terhadap kebudayaan lain,
5)      Kuatnya perasaan we-feeling dalam kelompok ingroup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar