Minggu, 22 November 2015

BERCAKAP-CAKAP SECARA SOPAN DENGAN MITRA BICARA DALAM KONTEKS BEKERJA

A.  Pilihan Kata atau Ungkapan untuk Memulai Percakapan
Proses penyampaian bahasa indonesia dalam berkomunikasi secara lisan dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung maksudnya berhadapan atau bertatap muka dengan mitra bicara dan tidak langsung ialah dengan menggunakan sarana seperti telepon atau media komunikasi lainnya. Apapun caranya, yang jelas setiap proses komunikasi dilakukan dengan tujuan agar pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh kedua pihak sehingga terjadi hasil yang efektif dan memuaskan.
Agar dapat terjadi hubungan komunikasi timbal balik yang sesuai dengan tujuan komunikasi, segala hal yang berkaitan dengan proses komunikasi harus diperhatikan. Unsur utama dalam komunikasi adalah bagaimana seseorang dapat menggunakan bahasa yang baik dan tepat. Selain itu, perlu dipertimbangkan pula aspek situasi, waktu, tempat, dan hubungan pembicara mitra atau kawan bicarannya, misalnya, saat membuka percakapan, saat menyampaikan pesan, dan ketika akan menutup pembicaraan. Hal ini biasanya mempengaruhi pilihan kata dan ungkapan yang digunakan dalam percakapan. Untuk memulai percakapan dalam situasi formal biasanya menggunakan ungkapan sebagai berikut.
1.      Selamat pagi.
2.      Selamat siang.
3.      Selamat malam
Atau ucapan pembuka dengan sapaan :
1.      Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu serta hadirin .... selamat malam
2.      Para tamu undangan yang kami muliakan.
3.      Assalamu’alaikum, Saudara-saudaraku.....
Ungkapan pembuka lewat telepon dalam ragam formal :
1.      Assalamu’alaikum.....
2.      Selamat pagi. Bisa bicara dengan .... saya dari ....
3.      Selamat sore, ada yang bisa bantu?
Ungkapan atau salam pembuka pada percakapan di telepon dalam situasi nonformal :
1.      Halo, gimana kabarnya?
2.      Halo, Rahmatnya ada?
3.      Halo, ada Wiwit, Bu?
B.   Salam dan Ungkapan dalam Mengakhiri Percakapan
Ketika akan mengakhiri percakapan biasanya seseorang akan menegaskan kembali hal-hal pokok yang berkaitan dengan materipembicaraan yang dianggap penting untuk diingat atau dilakukan kepada kawan bicaranya. Selanjutnya baru menyampaikan ucapan penutup pembicaraan. Saat akan mengakhiri percakapan, biasanya pembicaramengucapkan hal-hal seperti di bawah ini.
1)     Menegaskan kembali yang hal penting dari apa yang telah dibicarakan agar tetap diingat atau tak lupa untuk dilakukan
Dalam situasi formal
Contoh :
1.      Baiklah, jangan lupa datang di acara wisudaku.
2.      Baiklah pemirsa dirumah, jika ada saran dan kritik, kirimkan ke ....
3.      Jadi, jangan sampai lupa rencana kita.
Dalam situasi nonformal
Contoh :
1.      Oke, jangan lupa besok ketemu ....
2.      Udah dulu, ya, pokoknya besok ....
3.      Oke, jadi, kan besok?
2)     Mengucapkan terima kasih.
Dalam situasai formal
Contoh :
1.      Atas perhatian Bapak dan Ibu sekalian, kami mengucapkan terima kasih.
2.      Terima kasih atas waktu dan kesempatannya.
3.      Terima atas kesediaan waktunya.
Dalam situasi nonformal
Contoh :
a.       Makasih banyak !
b.       Makasih, ya !
c.       Trims, yuk !
3)     Permintaan maaf
Dalam situasi formal
Contoh :
1.      Kami mohon maaf jika ada pelayanan yang tak berkenan.
2.      Mohon maaf jika ada kata-kata yang tak pantas.
3.      Sebelumnya kami mohon maaf bila tak berkenan ....
Dalam situasi nonformal
Contoh :
1.      Maaf, ya, kalau ada salah ucap.
2.      Maafin ya, kalau ada salah kata.
3.      Maaf, ya !
4)     Ungkapan perpisahan serta harapan
Dalam situasi formal
Contoh :
1.      Selamat jalan semoga sampai tujuan.
2.      Semoga berhasil, sampai jumpa.
3.      Selamat berpisah, semoga kita bertemu lagi.
Ucapan perpisahan nonformal
Contoh :
1.      Dada ....
2.      Bye ....
3.      Goodbye ....
4.      Sampai nanti, ya ....
5)     Menutup percakapan dengan salam penutup. Salam penutup biasanya disesuaikan dengan salam pembuka atau berdasarkan waktu.
Dalam situasi formal
Contoh :
1.      Assalmu’alaikum.
2.      Selamat malam.
3.      Selamat siang.
Salam penutup dalam situasi nonformal
Contoh :
1.      Met malam !
2.      Malam !
3.      Assalamu’alaikum.
C.  Penerapan Pola gilir dalam Percakapan secara Aktif
Dalam percakapan terkadang terjadi pola satu arah diakibatkan oleh seseorang mendominasi pembicaraan. Agar percakapan dapat berlangsung dengan merata dalam arti setiap orang yang terlibat percakapan mendapat giliran yang sama dalam berbicara, dapat diterapkan sistem pola gilir. Penerapan pola gilir dapat dilakukan dengan cara melemparkan pertanyaan. Apalagi jika anda moderator atau pemimpin dalam diskusi, anda bisa meminta anggota lainnya memberikan pendapat, gagasan, atau penilaian.
Di bawah ini beberapa contoh ungkapannya.
1.      Bagaimana menurut pendapat anda?
2.      Mungkin diantara kalian ada yang berpendapat lain?
3.      Menurut pandanganmu gimana?
4.      Adakah yang memiliki pendapat lain?
D.  Mengalihkan Topik Pembicaraan secara Halus
Dalam suatu percakapan baik formal, semi formal, maupun nonforma, pengalihan pembicaraan ke topik lain bisa terjadi. Hal ini bisa diakibatkan karena adanya keterkaitan antara satu masalah terhadap masalah lainnya atau satu topik terhadap topik lainnya. Dalam suatu pembicaran, pengembangan gagassan atau meluasnya pembicaraan kepada pokok pembicaraan yang lain masih dianggap wajar jika tetap pada pokok persoalan yang sedang dibahas. Proses pengalihan topik pembicaraan bisa disadari dan juga tidak disadari. Jika memang harus dilakukan, pengalihan topik dapat dilakukan secara halus dan santun agar tak mengganggu kenyamanan proses percakapan yang tengah berlangsung. Pengalihan topik dapat dilakukan dengan ungkapan berikut.
1.      Mungkin ada kaitannya dengan ....
2.      Mungkin menyimpang sedikit, tapi ....
3.      Bagaimana menurut anda mengenai faktor lain seperti ....
4.      Maaf, saya dengar Ibu suka juga pada .....
5.      Bagaimana jika kita meninjau sisi lain misalnya ....
Dalam situasi nonformal, pengalihan topik pembicaraan dapat dilakukan dengan menyatakan ungkapan :
1.      Saya dengar Bapak bisa melakukan hal lain, seperti ....
2.      Wah, makin seru kalau kita bicara soal ....
3.      Boleh tau pandangan Ibu tentang ....
Pengalihan topik dalam suatu diskusi bisa saja menyimpang dari pokok persoalan semula. Hal ini tidak boleh dibiarkan. Jika anda moderator, anda harus bisa mengembalikan pembicaraan yang menyimpang tersebut kembali pada topik pembicaraan yang sebenarnya, dengan mengucapkan :
1.      Maaf, agar pertanyaan dipersingkat.
2.      Maaf, pertanyaan langsung kepokok permasalahan.
3.      Pertanyaan agar terfokus pada topik pembicaraan ....
E.   Mengungkapkan Perbedaan Pendapat secara Halus
Perbedaan pendapat diantara pembicara baik pada forum diskusi atau situasi semi formal sudah biasa terjadi. Tidak setiap orang selalu menyetujui pendapat mitra bicaranya. Masing-masing orang memiliki pandangan atau pemikiran sendiri. Tetapi, perbedaan pendapat itu tak boleh menjadi pemicu konflik. Perbedaan pendapat dapat semakin memberi wawasan yang lebih luas tentang suatu pokok permasalahan. Mencari solusinya bisa lebih variatif. Segala unsur yang berbeda dicarikan sudut persamaanya atau disinergikan ntuk mengarah pada satu kesimpulan atau penyelesaian. Menyampaikan pendapat yang berbeda atau menyanggah pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat kita dapat dilakukuan secara halus dengan mempertimbangkan hal-hal berikut.
(1)   Nyatakan permohonan “maaf” dahulu.
(2)   Berikan kesan mendukung gagasan yang akan disanggah sebelum menyertakan                   kekurangannya.
(3)   Ungkapkan kekurangan dengan perkataan yang halus seperti, “kurang” atau “belum”,           bukan kata-kata “tidak”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar